Matarammetro-Dua Lokal ruang kelas SMAN 7 Mataram tiba tiba runtuh tanpa angin dan tanpa gempa pada hari Selasa 19 Mei 2026 pukul 12.30 WITA, 4 orang siswa yang berada diruang kelas mengalami luka luka ringan dan 1 orang siswi mengalami trauma berat dan dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan darurat.
Menurut L.Wirabhakti, SE. Waka Sarpras SMAN 7 Mataram, Peristiwa runtuhnya atap 2 lokal ruang kelas SMAN 7 Mataram sekitar pukul 12.30 WITA pada jam ISOMA, sementara seluruh siswa/siswi sedang berada diluar ruangan untuk melaksanakan sholat zuhur dan makan siang, 5 orang siswa kelas 12 A3 tidak melaksanakan sholat. Selasa (19 Mei 2026).
“Ruangan yang roboh ini sebenarnya sisa dampak gempa 2008 yang belum sempat ditangani, bangunan ini sudah berusia 20 tahun. Dan sudah kita laporkan untuk segera ditangani karena kayu bubungannya sudah dalam kondisi melengkung sehingga satu dari 2 ruangan yang runtuh ini ditutup mati tidak dipakai. 4 orang siswa kami yang berdiam dalam kelas mengalami luka ringan, dan satu orang trauma psikis,”terangnya.
Dalam peristiwa tersebut Polresta Mataram menerjunkan Unit INAFIS (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System), yaitu unit di bawah Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) di tingkat Kepolisian Resor (Polres) yang melakukan olah TKP dan identifikasi korban maupun dampak peristiwa tersebut dan menegaskan bahwa ada 5 orang korban luka ringan dan trauma dan telah dievakuasi ke puskesmas terdekat, (belakangan kemudian diketahui korban trauma dirujuk ke RSUD Kota Mataram, red)

Kadis Dikpora NTB Dr. Syamsul Hadi, M.Pd., yang berkesempatan langsung turun ke lokasi menegaskan bahwa keruntuhan atap ruang belajar SMANJU tersebut murni karena kerusakan material kayu yang sudah lapuk dimakan waktu.
“Ini murni karena kerusakan akibat usia bangunan yang sudah kadaluarsa, harus dilakukan pemantauan terkait dengan kerusakan kerusakan dan keamanan proses belajar mengajar. Kita akan minta PUPR NTB untuk melakukan pengecekan kondisi bangunan yang tidak runtuh juga, jika berbahaya maka kita tutup,”terangnya.
“Agar proses belajar mengajar tetap berjalan kita akan minta pihak sekolah untuk memanfaatkan ruang belajar yang masih kosong atau dibagi masuk siang dan sore,”imbuhnya.

Sementara itu dilokasi yang sama, kepala SMAN 7 (SMANJU) Mataram Rida Rosalina, SE., menjelaskan bahwa dua ruang kelas tersebut adalah ruang kelas 11 B2 dan B3.
“Saya kaget mendengar suara gemuruh itu, ternyata yang runtuh itu ruang kelas 11 B2 dan B3. Padahal pagi tadi saya sempat keliling mengawasi dan mengecek semua ruangan dan Nampak biasa sajar tidak ada tanda tanda akan runtuh. Kelas 11 B2 sebenarnya sudah tidak berani dipakai dan sudah ditutup mati, sehingga yang dipakai itu hanya ruang kelas 11 B3 karena belum ada plafon yang terlepas, bahkan sempat kami renovasi jendela dan pintu belum lama ini. Kami berharap pemerintah segera memperbaiki kondisi ini,”tuturnya.(red)
