NTB Perkuat SDM, Data Berkualitas Jadi Dasar Keputusan Pembangunan

Matarammetro — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat kualitas sumber daya manusia pengelola data sebagai bagian dari upaya memastikan setiap kebijakan dan program pembangunan disusun berdasarkan informasi yang benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Penguatan tersebut dilakukan melalui Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Produsen Data dengan tema “Data Berkualitas untuk Perencanaan Pembangunan yang Lebih Tepat dan Berdampak” di Gedung Sangkareang, Kantor Gubernur NTB, Kamis (1/10).

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi NTB, Ahsanul Halik atau Aka, mengatakan penguatan kapasitas produsen data merupakan bagian penting dari penyelenggaraan NTB Satu Data. Sebab, kualitas pembangunan sangat dipengaruhi oleh kualitas data yang menjadi dasar dalam melihat persoalan, menentukan prioritas, mengambil keputusan, hingga mengukur hasil pembangunan.

“Kegiatan ini bukanlah sekadar pekerjaan yang bersifat seremonial ataupun sekadar wacana. Ini adalah kerja bersama seluruh perangkat daerah, di bawah arahan dan bimbingan Bapak Gubernur,” ujarnya.

Menurut Aka, data tidak boleh dipandang sekadar sebagai kumpulan angka atau dokumen administratif. Data harus mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara utuh sehingga dapat digunakan pemerintah untuk memahami persoalan dan menentukan intervensi yang tepat.

“Data yang baik akan menghasilkan informasi yang baik. Informasi yang baik akan membantu kita mengambil keputusan yang lebih tepat. Dan dari keputusan yang tepat, kita berharap dapat menghadirkan pembangunan yang benar-benar memberikan manfaat dan dirasakan oleh masyarakat,” katanya.

Karena itu, Aka menekankan bahwa penguatan NTB Satu Data tidak cukup hanya dengan membangun sistem maupun portal digital. Di balik teknologi tersebut terdapat proses, standar, tata kelola, dan manusia yang menentukan apakah data yang dihasilkan benar-benar berkualitas.

“Portal boleh dibangun dengan teknologi terbaik, tetapi kualitas data tetap ditentukan oleh kualitas manusia yang menghasilkan data tersebut,” tegasnya.

Para produsen dan pengelola data, lanjut Aka, harus memiliki kompetensi, memahami tugas dan fungsinya, serta bekerja dengan integritas dan komitmen. Setiap data yang dihasilkan memiliki konsekuensi karena dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan menentukan arah pembangunan.

Kualitas data tersebut setidaknya harus ditopang oleh kebenaran, akurasi, kelengkapan, konsistensi, kejelasan definisi, serta kemampuan untuk dipertanggungjawabkan.

Aka mencontohkan pentingnya data yang tepat dalam menentukan kebijakan pelayanan publik. Dalam pembangunan fasilitas pendidikan khusus bagi penyandang disabilitas, misalnya, pemerintah perlu mengetahui persebaran masyarakat yang membutuhkan layanan tersebut.

“Kita harus membangun berdasarkan data dan melihat karakteristik masyarakatnya. Jangan sampai fasilitas dibangun di suatu lokasi, tetapi masyarakat yang membutuhkan justru berada di lokasi lain,” katanya.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa kualitas data pada akhirnya berkaitan langsung dengan ketepatan kebijakan. Semakin baik pemerintah memahami kondisi masyarakat melalui data, semakin besar peluang program dan fasilitas yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan.

Dalam konteks tersebut, Dinas Kominfotik NTB sebagai wali data tidak dapat bekerja sendiri. Penguatan NTB Satu Data membutuhkan keterhubungan antara produsen data, wali data, pembina data, dan seluruh perangkat daerah sehingga proses pengumpulan, pengolahan, verifikasi, hingga pemanfaatan data berjalan dalam standar yang sama.

Aka menyampaikan apresiasi kepada Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB atas pembinaan, pendampingan, dan kontribusinya dalam penguatan statistik sektoral. Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh perangkat daerah, khususnya para pengelola data, serta mitra pembangunan SKALA yang turut mendukung penguatan tata kelola NTB Satu Data.

“Apa yang kita miliki hari ini bukanlah hasil kerja satu institusi. Ini adalah hasil dari kerja bersama,” ujarnya.

Dari proses penguatan tersebut, Aka menyampaikan bahwa sekitar 830 data telah terkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri sebagai bagian dari penyelenggaraan Satu Data Indonesia. Sementara Indeks Satu Data Indonesia NTB saat ini berada di kisaran 81 poin, meningkat dibandingkan capaian sebelumnya yang berada di kisaran 75 poin.

Capaian tersebut, menurut Aka, bukan alasan untuk berhenti, tetapi menjadi dasar untuk terus memperbaiki kualitas SDM, tata kelola, koordinasi, dan integrasi data.

Bimbingan teknis tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan pengelola data dalam mengolah dan menyajikan data secara komunikatif, termasuk melalui statistik, grafik, diagram, peta, dan infografis. Dengan demikian, data sektoral tidak berhenti sebagai angka atau tabel, tetapi dapat diterjemahkan menjadi informasi yang lebih mudah dipahami dan digunakan dalam proses pemerintahan.

Pada akhirnya, Aka menegaskan bahwa tujuan utama NTB Satu Data adalah membangun perubahan dalam cara pemerintah bekerja.

“Yang ingin kita bangun sesungguhnya bukan hanya satu data. Kita ingin membangun satu pemahaman, satu standar, satu proses, satu komitmen, dan satu semangat untuk menghadirkan data yang berkualitas bagi kemajuan Nusa Tenggara Barat,” ujarnya.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dalam Bimtek dapat diterapkan di masing-masing perangkat daerah, terutama dengan memperbaiki kualitas data sejak dari sumbernya.

Sebab, menurut Aka, data yang berkualitas bukan sekadar kebutuhan sistem pemerintahan, tetapi fondasi agar setiap rupiah pembangunan, setiap program, dan setiap keputusan pemerintah benar-benar diarahkan kepada kebutuhan masyarakat.(red)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

mungkin menarik

BNPB dan GIZ Rintis Skema Pembiayaan Risiko Bencana Terukur dari NTB untuk Nasional

BNPB dan GIZ Rintis Skema Pembiayaan Risiko Bencana Terukur dari NTB untuk Nasional https://ntbprov.go.id/post/bnpb-dan-giz-rintis-skema-pembiayaan-risiko-bencana-terukur-dari-ntb-untuk-nasional MATARAM— Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) melalui program Integrated Solutions for Disaster Risk Management and Social Protection (ISASP) menggandeng Forum Pengurangan Risiko Bencana Nusa Tenggara Barat (FPRB NTB) merintis pengembangan kerangka pembiayaan risiko bencana terintegrasi yang dimulai dari tingkat daerah hingga nasional. Inisiatif tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan pertemuan pemangku kepentingan utama (pre-findings meeting) yang berlangsung di Hotel Santika Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (20/8). Kegiatan ini menjadi bagian penting dari rangkaian pengumpulan data serta analisis komprehensif di tingkat nasional maupun daerah yang telah dilaksanakan sejak 10 hingga 19 Agustus 2026. NTB dipilih sebagai wilayah percontohan utama (pilot project) untuk menghasilkan rekomendasi strategis berbasis fakta (evidence-based). Pembelajaran lokal yang didapatkan dari NTB diharapkan mampu menjadi fondasi kokoh dalam merumuskan instrumen serta mekanisme keuangan berbasis komunitas yang terjangkau, konkret, dan dapat direplikasi secara luas di seluruh wilayah Indonesia. Pelaksanaan kajian ini difasilitasi oleh kerja sama antara Frankfurt School of Finance & Management, BNPB, GIZ, dan FPRB NTB, serta mendapat dukungan teknis dari lembaga konsultan MarkPlus. Tim gabungan tersebut mengarahkan fokus analisis pada pemetaan kesenjangan (gap analysis) pembiayaan risiko bencana di NTB melalui pendekatan serta metodologi survei pasar yang terstruktur. Melalui pendekatan survei pasar tersebut, studi ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mengenai lanskap pembiayaan risiko bencana yang ada saat ini, mengidentifikasi celah pembiayaan utama yang belum tersentuh, serta memetakan berbagai opsi penguatan kesiapsiagaan dan ketangguhan finansial, baik di tingkat lokal maupun di tingkat nasional. Integrasi Manajemen Bencana dan Perlindungan Sosial Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, Dr. Udrekh, menjelaskan bahwa langkah strategis ini berjalan selaras dengan visi jangka panjang Pemerintah Indonesia dalam mengintegrasikan Pengelolaan atau Manajemen Risiko Bencana (PRB) dan Adaptasi Perubahan Iklim (API) dengan sistem Perlindungan Sosial (PS). Menurut Udrekh, integrasi tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan mekanisme keuangan strategis dan instrumen asuransi untuk memperkokoh kesiapsiagaan, kecepatan tanggap darurat, serta efektivitas ketangguhan pascabencana bagi masyarakat. “Penguatan ketangguhan bencana menuntut ketersediaan akses keuangan yang memadai, andal, dan tepat waktu bagi pemerintah, dunia usaha, maupun rumah tangga saat terjadi bencana,” ujar Udrekh dalam keterangannya. Langkah konkret yang dilakukan mencakup evaluasi menyeluruh terhadap skema pembiayaan bencana yang sedang berjalan saat ini, pemetaan dinamika penawaran dan permintaan (supply and demand) pada sektor-sektor perekonomian vital di NTB—seperti sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata—serta pemetaan berbagai hambatan dari aspek hukum, finansial, maupun kelembagaan. Melalui identifikasi menyeluruh tersebut, inisiatif ini menjajaki peluncuran mekanisme perlindungan finansial yang tepat guna dan aplikatif di tingkat tapak. Beberapa instrumen pembiayaan yang tengah dikaji antara lain skema asuransi mikro (microinsurance), pembentukan dana cadangan (contingency funds), serta instrumen pengalihan risiko (risk transfer). Lebih lanjut, program ini mengusung pendekatan inovatif dengan mengintegrasikan Pembiayaan Risiko Iklim dan Bencana (Climate and Disaster Risk Financing / CDRFI) ke dalam skema Perlindungan Sosial Adaptif (Adaptive Social Protection / ASP). Langkah ini dirancang sebagai bentuk investasi solusi terpadu untuk membangun kapasitas komprehensif masyarakat di setiap fase siklus bencana, yaitu kapasitas adaptif, kapasitas antisipasi, hingga kemampuan dalam menyerap dampak atau risiko bencana (coping capacity). Konsultasi Publik dan Pelibatan Lintas Sektor Dalam proses pengumpulan data dan perumusan rekomendasi, rangkaian kegiatan ini melibatkan proses konsultasi publik yang komprehensif dengan merangkul seluruh jajaran instansi pemerintah di tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pemangku kepentingan lokal yang terlibat aktif mencakup Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BKAD), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pariwisata, Dinas Pertanian, serta Dinas Kelautan dan Perikanan. Selain jajaran birokrasi dan dinas teknis, kolaborasi ini turut menghimpun masukan strategis dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK Regional NTB), pelaku sektor swasta, serta kelompok masyarakat di tingkat desa. Pelibatan kelompok masyarakat desa menjadi krusial mengingat wilayah tersebut merupakan tempat dikembangkannya model mata pencaharian berkelanjutan (sustainable livelihood models / SLM). Sementara itu, Commission Manager/Principal Advisor GIZ ISASP Indonesia, Cut Sri Rozanna, menekankan pentingnya menempatkan investasi pada kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana sebagai prioritas bersama lintas sektor. “Seiring meningkatnya frekuensi bencana dan besarnya kerugian ekonomi yang mengancam keberlanjutan pembangunan di Indonesia, perlindungan sosial adaptif tidak boleh sekadar dipandang sebagai program tunggal. Hal ini harus dibangun sebagai sebuah sistem terpadu dari hulu ke hilir,” tegas Cut Sri Rozanna. Ia menambahkan bahwa apabila perlindungan sosial adaptif dipadukan dengan pembiayaan risiko bencana yang inovatif, inklusif, terjangkau, serta fleksibel untuk diakses masyarakat pada seluruh siklus bencana, maka pembentukan komunitas yang tangguh bukan lagi sekadar wacana. GIZ menyatakan komitmen penuhnya untuk terus mendukung pencapaian visi jangka panjang Pemerintah Indonesia tersebut. Penyusunan Laporan Penilaian Kesenjangan Pada kesempatan yang sama, Ketua FPRB NTB, Dr. Rahmat Sabani, menegaskan pentingnya kontinuitas sistem dalam membangun ketangguhan masyarakat lokal secara nyata di lapangan. Menurutnya, proses ketangguhan tidak bisa berhenti pada aspek fisik semata, melainkan harus menyentuh ranah keterjaminan finansial. “Membangun ketangguhan masyarakat lokal membutuhkan sistem yang berkesinambungan dan tidak terputus, mulai dari upaya mitigasi di hulu hingga penyediaan perlindungan finansial di hilir,” kata Rahmat. Seluruh data, temuan, dan masukan yang berhasil dihimpun dari rangkaian kegiatan Survei Pasar ini nantinya akan dirangkum secara mendalam dalam Gap Assessment Report (Laporan Penilaian Kesenjangan) yang dijadwalkan rampung pada November 2026. Laporan komprehensif tersebut disusun untuk menyajikan berbagai pilihan kebijakan (policy options) yang konkret, sekaligus menyediakan cetak biru (blueprint) pengembangan produk-produk keuangan yang adaptif bagi Nusa Tenggara Barat. Ke depannya, rancangan instrumen keuangan yang berhasil diterapkan di NTB ini akan menjadi model acuan (benchmark) nasional bagi daerah-daerah lain di Indonesia dalam memperkuat sistem ketahanan finansial menghadapi ancaman bencana dan perubahan iklim. (KominfotikNTB)

Raih Prestasi di Kriyanusa 2026, Ketua Dekranasda NTB Sinta M. Iqbal : Momentum dan Langkah Baru Menembus Pasar Global

Raih Prestasi di Kriyanusa 2026, Ketua Dekranasda NTB Sinta M. Iqbal : Momentum dan Langkah Baru Menembus Pasar Global

Ekspor NTB Melonjak 296 Persen, Sektor Pariwisata dan Pelayaran Terus Tumbuh Positif

Ekspor NTB Melonjak 296 Persen, Sektor Pariwisata dan Pelayaran Terus Tumbuh Positif