Coffee Morning Dispar Mataram Gandeng PHM Kemas Epicentrum Pariwisata NTB

Matarammetro-Gebyar event MotoGP yang menghantarkan NTB mendunia mendorong segenap unsur pembangunan mengambil peran penting dimasing masing pilar pembangunan daerah, salah satunya para pelaku wisata dan penyedia hunian untuk para pengunjung disetiap hotel dengan berbagai kelas.

Kota Mataram sebagai ibukota provinsi NTB bergegas menata diri melalui dinas pariwisata yang mengemas berbagai ivent pendukung dan menggandeng pengusaha hotel kelas Melati hingga berbintang bertaraf internasional.

Untuk menyelaraskan langkah dan menyatukan persepsi, Dinas Pariwisata Kota Mataram menggelar Coffee Morning bersama Perhimpunan Hotel Melati Mataram diaula Dinas Pariwisata Kota Mataram, Selasa (20 Oktober 2026).

Usai acara tersebut, Kepala Dinas Priwisata Kota Mataram Dr. Cahya Samudra, S.STP., M.H., mengungkapkan bahwa ditengah efiiensi anggaran Kota Mataram terus mengkemas sejumlah ivent berupa Festival festival kegiatan rutin sebagai upaya menciptakan daya tarik pariwisata Kota Mataram.

“Kota Mataram akan kita jadikan epicentrum pariwisata di NTB, karena sarana prasarana pendukung berupak akomodasi terpusat di Kota Mataram sebagai Ibu Kota Provinsi NTB dan penunjang utama pariwisata di Pulau Lombok,”terangnya.

Menurutnya Dinas Pariwisata Kota Mataram menyelenggarakan iven ivent rutin dan tematik di empat titik destinasi yakni Loang Baloq dengan tarung pepadu Perisaian, dipantai Ampenan, diteras Udayana dengan bazar UMKM bertajuk Jum’at Rileks, dan Mayura dengan Mayura Heritage Yoga & Coffee Nite.

“Sensasi  Olahraga di Taman Mayura dan ngopi di taman para Raja,”tegasnya.

Terkait imbas ivent MotoGP Mandalika terhadap Kota Mataram, Cahya Samudra mengaku belum mendapat data resmi terhadap jumlah pengunjung yang menginap di Hotel Melati, namun diperkirakan menjcapai 50% terisi dan untuk hotel berbintang mencapai 80 hingga 90% kamar terisi.

“Perbedaan ini terpengaruh oleh penyediaan sarana dan prasarana layanan dimasing masing klasifikasi hotelnya. Kami dari pemerintah juga sudah berupaya melakukan sosialisasi dan mendorong promosinya. Peran Kota Mataram sebagai tuan rumah Motor Riders Parade cukup mendongkrak kegiatan MotoGP, dan Bazar Kulliner teras Udayana cukup mengcofer panganan tamu dari luar daerah,”paparnya.

Cahya Samudra juga menjelaskan, acara coffee morningyang digelar bersama perhimpunan hotel melati Mataram untuk berdiskusi dan saling mendorong melalui ivent ivent dan dapat berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Mataram dengan nafas gotong royong.

“Kami juga sangat mengatensi masukan PHM terkait dengan regulasi penataan koskosan agar tercipta pasar yang  sehat. Walikota Mataream juga sudah menyampaikan kepada jajarannya untuk melakukan kajian regulasi perijinannya,”jelasnya.

Coffee Morning Dispar Mataram Gandeng PHM Kemas Epicentrum Pariwisata NTB
Ketua Perhimpunan Hotel Melati (PHM) Kota Mataram Guru Mangku I Gde Wenten

Dalam kesempatan yang sama ditempat terpisah Ketua Perhimpunan Hotel Melati (PHM) Kota Mataram Guru Mangku I Gde Wenten yang juga berkesempatan hadir dalam Coffee Morning tersebut mengakui konsep coffee morning Dinas Priwisata Mataram bertujuan menyerap masukan dari berbagai komponen pelaku pariwisata Mataram terutama membangun keamanan dan kenyamanan wisatawan, Selasa ( 20 Oktober 2026).

“Wisata religi yang tersedia di Kota Mataram sangat mendukung terutama dengan keberadaan Islamic Centre, Situs Taman Pura Mayura yang menyimpan sejarah peradaban zaman kerajaan, Makam Loang Baloq yang menyimpan sejarah da’wah Islam. Artinya Kota Mataram kaya dengan destinasi wisata, namun membutuh kan promosi yang serius, dan peran proaktif pemerintah sangat menentukan arah asset pariwisata Kota Mataram kedepan,”ungkapnya.

Menurutnya dengan pembangunan dan promosi pariwisata akan dapat mendatangkan keuntungan secara social maupun ekonomi terlebih dengan program pengembangan UMKN yang sedang digalakkan pemerintah.

“Dengan terbangunnya ekonomi daerah melalui pengembangan pariwisata akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan PAD Kota Mataram. Kami menyampaikan masukan terkait regulasi penertiban koskosan juga agar ada kontribusi pemilik koskosan terhadap PAD, karena pola kerja dan tata kelola koskosan hampir sama dengan tata kelola penginapan hotel, namun tidak ada dikenakan beban retribusi maupun pajak daerah. Sehingga kami para pengfelola penginapan merasa tersaingi dan tidak ada keseimbangan,”ungkapnya.(red)

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

mungkin menarik