FKJP dan Assyifa Kuak Yatim Terlantar Dibalik Gemerlap Kompleks BTN Green Rose Ireng Lobar

Matarammetro-Tak disangka, diantara  deretan gemerlap perumahan kompleks BTN Green Rose, Desa Sesela Kecamatan Gunung Sari Lombok Barat  hidup 5 orang anak yatim yang menempati rumah BTN yang hampir lapuk di gang A1 no. F1 ditinggal ayahnya yang wafat 6 tahun lalu dan ibunya ke Malaysia sebagai TKW sejak 2020 yang lalu.

Diketahui dari keterangan Ketua Forum Komunikasi Jejaring Pemagangan Jepang (FKJP) NTB, Saparuddin, S.H., M.Kn., yang mengaku menemukan keluarga yatim tersebut lantaran kebetulan sedang melakukan sosialisasi program magang Jepang dilingkungan tersebut dan teringat rumah sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.

“Awalnya saya hanya datang ke lingkungan Dasan Utama BTN Green Rose untuk sosialisasi program pemagangan ke Jepang pada Jumat 13 Februari 2026. Selesai sosialisasi saya teringat pernah membantu seorang janda yang ingin jadi TKW ke Malaysia 5 tahun yang lalu yang tinggal dialamat gang A1 rumah no F1 yang saya yakin anaknya ada yang sudah lulus SMA dan saya akan bantu untuk bisa berangkat ke Jepang,”tuturnya mengawali keterangannya, Sabtu (14 Februari 2026).

Tim FKJP penyintas, bersama dr. Supardi, dan Syahrul tetangga yang peduli
Tim FKJP penyintas, bersama dr. Supardi, dan Syahrul tetangga yang peduli
Kondisi dari depan rumah yang dihuni 5 anak yatim BTN GREEN ROSE Ireng Lauk

Namun, lanjutnya kemudian, Saya tidak sangka yang saya temui adalah  anak anaknya hidup terlantar dengan kondisi rumah yang hampir lapuk, kasur tipis robek dan bantal usang, dihiasi dengan perabot yang sudah tidak layak pakai. Saya langsung jemput Pak Kades Sesela dan membawanya untuk menyaksikan kondisi yatim itu, dan Pak Kades  terbelalak dan langsung melaporkan via telpon ke Kepala Dinas Sosial Lombok Barat, dan instansi lainnya,”ungkapnya.

Hari Sabtu 14 Februari 2026 Dinas Sosial Lombok Barat langsung menerjunkan petugas Bidang Rehabilitasi melakukan pendataan sekaligus assasment untuk input data dan mendapatkan hak bantuan social.

“Hanya fasilitas rumahnya saja yang sudah tidak layak, dan butuh diganti,”ungkap petugas dinas social Lobar bidang rehabilitasi social.

M. Taufik Kades Sesela akan terjunkan pemuda desa untuk gotong royong

Sementara itu, Kepala Desa Sesela, M. Taufik yang juga turun ke lokasi mengaku sempat kaget saat melihat kondisi warganya yang tersebunyi dibalik kompleks BTN.

“Saat menerima informasi dan langsung kami cek, saya sempat kaget juga melihat kondisi rumah anak anak ini yang tidak tertata dan tinggal bersama adik kakak 4 bersaudara. Dan langsung hari itu juga kami langsung melakukan koordinasi dan komunikasi bersama Dinas Sosial Lombok Barat, dan pihak sekolah SMKN 1 Mataram tempat Surya Jagad Pamungkas anak ke 3 bersekolah dan Baznas NTB, dan alhamdulillaah langsung direspon. Dan hari ini Sabtu 14 Februari petugas Dinas Sosial Lombok Barat langsung turun melakukan assasment. Selanjutnya kami akan koordinasikan agar anak anak ini tetap bisa bersekolah. Besok kami akan kerahkan pemuda desa Sesela bergotong royong untuk menata rumahnya ini,”terang Taufik.

Sementara, Pak Syahrul salah seorang tetangga sebelahnya yang mengaku mantan RT menjelaskan bahwa, rumah tersebut adalah hasil yang diperoleh almarhum Bapaknya anak anak tersebut sebagai kompensasi persentase pihak pengembang karena berhasil menjual sejumlah unit BTN tersebut.

“Rumah ini bukan hasil dibeli atau dikredit, rtapi diberikan oleh pengembang sebagai fee penjualan unit. Almarhum Bapaknya bekerja sebagai sopir Koperasi guru, kemudian berangkat ke Malaysia dan pulang dalam keadaan sudah sakit melalui jalur illegal dan meninggal dalam perawatan. Setahun kemudian ibunya berantgkat juga ke Malaysia hingga hari ini. Sebagai tetangga kami juga sering memberikan bantuan makanan,”terang Syahrul.

Niza Rosdian, anak tertua yang sekarang duduk dibangku kuliah dengan bea siswa, mengaku selalu mendapat kiriman dari ibundanya  untuk biaya listrik,air, dan ongkos kuliah kedua adiknya, dan ongkos kuliahnya sendiri.

Danil Rabsanzani yang putus sekolah kelas 10 SMKN 4 Mataram 5 tahun lalu karena tidak mampu bayar BPP dan sekarang bekerja di Sheraton senggigi dengan penghasilan Rp. 2.500.000. dan mengaku tidak pernah dapat bantuan social. Faris Alhatami anak ke 4 dan Haifa Kamila anak bungsu diketahui dirawat neneknya di Lombok tengah.

Sementara itu dilokasi yang sama, dr. Supardi, direktur klinik Asyfa Al-Halim yang juga turut prihatin mengatakan menjamin perawatan dan pengobatan gratis kepada 5 anak yatim tersebut sebagai wujud pengabdian sosialnya.

“Saya atas nama klinik Asyfa Al-Halim menyatakan akan memberikan pengobatan gratis kepada anak anak ini sebagai wujud keprihatinan dan pengabdian social,”ungkapnya tegas.(red)

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

mungkin menarik